Rindu

“Mbang..” itu panggilan sayangmu untuku. Bukan Bambang atau Embang, hanya Mbang. Entah sampai detik ini nama itu masih menjadi tanya, kenapa nama itu muncul? Mungkin sekarang adalah hal yang sia-sia ketika aku mempertanyakan itu. Kemungkinan kau untuk menjawabnya sangatlah kecil atau hampir tak ada. Tak ada.

Rindu. Kata kawanku itu sama halnya siksa. Kau menyiksaku dengan ketidakhadiranmu. Tak ada lagi yang memanggilku Mbang dengan suguhan senyum yang khas dari bibirmu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku rindu. Dan aku tak sepakat dengan kawanku bahwa rindu itu siksa. Rindu itu adalah penanda, penanda adanya hal yang berarti dalam hidup. “Kau berarti dalam hidupku..”, walau kata ini tak pernah tersampaikan kepadamu. Mungkin kau tahu itu walau tanpa kata yang terlontar.

Apa kabar dirimu? Bodoh mempertanyakan hal itui, karena aku tahu kalau tak mungkin menjawabnya walau kau mungkin tahu. Apakah rindu melemparku dalam kebodohan? Ataukah rindu padamu itu bagian dari kebodohan. Jika rindu adalah bagian dari kebodohan, aku tak keberatan dengan padangan ini. Aku rela dipandang bodoh hanya untuk menyatakan rinduku padamu.

Tak perlu jawabmu akan pernyatan dan pertanyaanku. Cukup kau tahu, itu sudah melegakan. Semoga kau tersenyum melihat kebodohanku. Salam rindu untukmu, seseorang yang memanggilku “Mbang”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.