Kau dan Aku sebatas kata

Rasa itu hanya implus-implus elektromagnetik dalam otak. Sebuah aktifitas fisik dalam otak, rasa mungkin itu. Mungkin engkau tak setuju akan kata-kataku, engkau memiliki konsep yang lebih rumit dan aku tak mampu menjamahnya. Aku terlalu jauh dari konsepmu. Aku terlalu jauh darimu. Secara fisik mataku tak dapat melihat senyummu, namun senyummu ada pada alam pikirku. Kau menjejali alam pikirku seperti iklan produk di televisi. Kerap kali muncul tanpa diinginkan. Baca lebih lanjut

Nikmati Sajalah

“Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya harus mati. Namun sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup”. Halaman 31 pada buku Dunia Sophie.

 

Hidup adalah pilihan. Mungkin iya, dan mungkin tidak. Yang jelas Tuhan tidak pernah menawari saya, “Kamu mau dilahirkan di dunia atau tidak?”. Barang kali ada yang pernah mendapatkan tawaran itu, wah sungguh keren orang itu, mungkin Tuhan senang bercanda. Jika mendapatkan tawaran itu kiranya apa yang kita pilih? Baca lebih lanjut

Rindu

“Mbang..” itu panggilan sayangmu untuku. Bukan Bambang atau Embang, hanya Mbang. Entah sampai detik ini nama itu masih menjadi tanya, kenapa nama itu muncul? Mungkin sekarang adalah hal yang sia-sia ketika aku mempertanyakan itu. Kemungkinan kau untuk menjawabnya sangatlah kecil atau hampir tak ada. Tak ada. Baca lebih lanjut

Hidupkan Laptopmu

Apakah kita begitu terikat dengan material yang melekat pada tubuh kita. Jelas bahwasannya tubuh membutuhkan asupan energi untuk memperbarui atau melahirkan kembali sel-sel tubuh yang telah mati. Jadi untuk mendapatkan energi itu kita bernafas, makan, dan minum. Makan dan minum untuk hidup, tapi kita tak pernah puas untuk makan. Dengan katalain kita tak pernah puas untuk hidup, tak ada yang namanya kerelaan untuk menuju dimensi lainnya. Dimensi baru, tubuh yang diuraikan menjadi material lain. Mati. Baca lebih lanjut

Pencuri ini & Pencuri itu

Tak ada yang murni orisinil. Semua adalah hasil curian. Seorang seniman mencuri dari seniman pendahulu dan meramu dalam perwujudan yang berbeda. Jika seniman baik, dia mencuri dan meramu hasil curiannya menjadi perwujudan yang lebih baik daripada “barang” curiannya. Seniman yang buruk merusak perwujudan “barang” curiannnya menuju lembah keburukan. Seniman mencuri tanpa adanya proses meramu, meracik, merekonstruksi, dan hal-hal yang senada.

Metode mengolah “barang” curian itulah mungkin menjadi hal yang orisinil, atau bisa jadi itu adalah metode curian. Yang menjengkelkan ketika pencuri hanya mencuri “barang” dan mengatasnamakan karya dia. Tanpa proses perubahan wujud. Aktivitas mencuri bukan sesuatu yang nista, dengan dibarengi metode pengolahan “barang” curian yang baik. Baca lebih lanjut