Nikmati Sajalah

“Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya harus mati. Namun sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup”. Halaman 31 pada buku Dunia Sophie.

 

Hidup adalah pilihan. Mungkin iya, dan mungkin tidak. Yang jelas Tuhan tidak pernah menawari saya, “Kamu mau dilahirkan di dunia atau tidak?”. Barang kali ada yang pernah mendapatkan tawaran itu, wah sungguh keren orang itu, mungkin Tuhan senang bercanda. Jika mendapatkan tawaran itu kiranya apa yang kita pilih? Baca lebih lanjut

Iklan

Hidupkan Laptopmu

Apakah kita begitu terikat dengan material yang melekat pada tubuh kita. Jelas bahwasannya tubuh membutuhkan asupan energi untuk memperbarui atau melahirkan kembali sel-sel tubuh yang telah mati. Jadi untuk mendapatkan energi itu kita bernafas, makan, dan minum. Makan dan minum untuk hidup, tapi kita tak pernah puas untuk makan. Dengan katalain kita tak pernah puas untuk hidup, tak ada yang namanya kerelaan untuk menuju dimensi lainnya. Dimensi baru, tubuh yang diuraikan menjadi material lain. Mati. Baca lebih lanjut

Kemuliaan si Penjual Kacang

Malam itu seolah-olah Markesot adalah seorang waliyullah. Matanya memancar aneh dan wajahnya seperti mengeluarkan cahaya. Radar wilayah-wilayah-nya bergetar oleh gelombang karomah dari Allah.

Seorang pemuda tetangga sedang berulang tahun. Markesot memprakarsai suatu syukuran kecil dengan menyembelih ayam. Tapi, inti dari syukuran ultah adalah berkumpulnya pemuda-pemudi berbagi membaca Al-Quran, kemudian khataman. Baca lebih lanjut

Masih Hidupkah yang Bernama NALAR ?

Sore hujan memeluk tanah yang akrab dengan tanaman tembakau, walau kala itu padi yang tumbuh. Kalender baru terpampang di dinding tepat pada minggu 11 januari 2015. Jemari menelusuri ‘keyboard‘ untuk menuangkan pemikiran yang kurang penting. Kurang penting, mungkin tulisan ini tak enak dibaca atau bahkan tak bermakna. Namun jemari itu punya kehidupan sendiri ia terus menikmati penjelahannya. Baca lebih lanjut

Nasihat Pertama Buat Mahasiswa

Seorang mahasiswa datang ke markas KPMb (Konsorsium Para Mbambung) untuk mengungkapkan kegelisahan, kecemasan, kesedihan, tuntutan, dan protes meskipun tidak jelas kepada siapa itu ditujukan.

Tampak ia anak muda yang rajin belajar. Tidak hanya membaca diktat kuliahnya. Tidak hanya memprihatinkan urusan karier belaka. Istilah sekarang ia mempunyai kepedulian sosial yang tinggi. Ia berempati terhadap masalah-masalah masyarakat, baik skala lokal, nasional, dan internasional. Baca lebih lanjut