Kau dan Aku sebatas kata

Rasa itu hanya implus-implus elektromagnetik dalam otak. Sebuah aktifitas fisik dalam otak, rasa mungkin itu. Mungkin engkau tak setuju akan kata-kataku, engkau memiliki konsep yang lebih rumit dan aku tak mampu menjamahnya. Aku terlalu jauh dari konsepmu. Aku terlalu jauh darimu. Secara fisik mataku tak dapat melihat senyummu, namun senyummu ada pada alam pikirku. Kau menjejali alam pikirku seperti iklan produk di televisi. Kerap kali muncul tanpa diinginkan. Baca lebih lanjut

Rindu

“Mbang..” itu panggilan sayangmu untuku. Bukan Bambang atau Embang, hanya Mbang. Entah sampai detik ini nama itu masih menjadi tanya, kenapa nama itu muncul? Mungkin sekarang adalah hal yang sia-sia ketika aku mempertanyakan itu. Kemungkinan kau untuk menjawabnya sangatlah kecil atau hampir tak ada. Tak ada. Baca lebih lanjut

Diksi, Suara, Laku dan Luka

Entah suara apa yang telah kau dengar, yang pada akhirnya membuat dadamu terasa sesak. Hanya saja tidak terbersit suatu niatan apapun dariku untuk membuatmu merasa tidak nyaman.

“LUKA” Iya, memang benar, suatu kebohongan jika aku berkata bahwa aku tidak pernah merasa terluka. Namun, “luka” itu tidak sepenuhnya tercipta atas apa yang telah kau lakukan dan ucapkan terhadapku. “Luka” itu lebih tepatnya adalah bentuk keangkuhanku untuk mengakui kekalahanku, “Luka” itu adalah bentuk pembelaan dan pembenaranku atas kebodohan-kebodohan yang telah aku lakukan, Dan “Luka” itu adalah bentuk ketidaksiapanku untuk mengamini kebenaran-kebenaran yang telah kau tunjukkan. Baca lebih lanjut